Make your own free website on Tripod.com
    Beranda    

17Tahun.com

17Tahun.com Modular Archive (17MArch), Timestamp 31082001

<<-Prev| Next->>

Wacana Ilmiah : ANTARA TEORI DAN PRAKTEK 02

Sambungan dari bagian 01


Hubungan Seksual Sebelum Menikah & Keperawanan
Secara jujur, aku mengatakan bahwa aku telah melakukan hubungan seksual pertama kali ketika aku sedang duduk di bangku SMA. Hubungan seksual pertama kali itu kulakukan dengan pembantuku. Apabila dalam cerita-cerita biasanya diceritakan pembantu itu bahenol, seksi dll. Secara jujur aku katakan bahwa pembantuku itu jauh sekali dari cantik, bahkan lebih tepat jelek. Jauh sekali dari yang namanya seksi, bahenol dll. Pembantuku ini type kutilang darat (kurus tinggi langsing dada rata). Apa yang menyebabkan aku berhubungan seksual dengannya adalah nafsu yang menggebu-gebu dan juga rasa ingin tahu yang kuat.

Aku sering menonton blue film dengan teman SMA-ku. Biasanya aku penasaran setelah nonton dan selalu timbul rasa ingin mencoba. Aku memang sudah punya pacar, tapi tidak terlintas dalam pikiranku bahwa aku akan melakukan hubungan seksual dengan pacarku yang alim, bahkan aku hanya beberapa kali saja mencuri-curi untuk mencium pipinya. Dengan pembantuku, aku sering bertanya-tanya tentang rasa berhubungan seksual. Dia seorang janda yang dicerai oleh suaminya. Dia bercerita tentang pengalamannya setelah kupaksa untuk bercerita. Aku juga memancing-mancing dia agar dia ingin melihat kemaluanku. Aku selalu bercerita bahwa aku merasa tidak senang dengan keadaanku yang sudah disunat (pada saat aku disunat, dia sudah menjadi pembantu rumah tangga di rumahku).

Ketika aku sudah memperlihatkan kemaluanku, rupanya dia menjadi lebih terbuka, terkadang dia mengolok-olok bahwa kemaluanku lebih kecil dibandingkan bekas suaminya, kemaluanku kecil, dll. Tapi dia akhirnya menjadi senang memegang-megang kemaluanku jika kuperlihatkan kepadanya. Dia mengatakan bahwa dia senang kalau memegang penis pria yang kembang kempis waktu ereksi, 'lucu' katanya.

Semakin lama semakin sering dia memegangi, mengurut, bahkan mengulum kemaluanku tanpa kuminta. Terkadang malah dia yang memegang-megang kemaluanku apabila ada kesempatan (rumah kosong atau sedang tidur siang). Aku menjadi tambah ingin tahu tentang kelamin wanita. Aku memang sudah biasa melihat di Blue Film, tapi tidak aslinya. Suatu saat aku memintanya untuk menunjukan alat kelaminnya kepadaku. Setelah didesak dan setengah dipaksa, akhirnya dia mengajak masuk ke kamarnya dan dia membuka celananya. Di situlah aku pertama kali melihat kelamin wanita dewasa ketika aku telah masuk usia akil baliq (remaja). Rasa ingin tahuku bertambah besar ingin melihat isi 'dompet wanita' itu. Aku minta dia berbaring dan aku ingin melihatnya. Semula dia menolak karena malu, tapi setelah aku desak dia mau juga.

Perlahan dia mengangkangkan kakinya di atas tempat tidur, dan aku berlutut melihat kemaluannya yang ditutupi bulu-bulu keriting. Aku tidak bernafsu saat itu, akan tetapi aku sangat senang melihat bentuknya dan juga rasa ingin tahuku mengalahkan nafsuku. Perlahan kubuka labia mayora, labia minora, dan aku merasakan bahwa lubang kemaluannya begitu basah. Saat itu aku tahu bahwa dia bernafsu sekali untuk melakukan hubungan seksual karena pada saat itu dia mengatakan, "Ayo.., ayo..", tapi aku sendiri tidak menghiraukan dan masih ingin tahu, perlahan kumasukkan jari tanganku ke dalam lubang vaginanya yang basah, ada perasaan yang sangat nyaman terasa di jariku. Dinding vagina begitu lembut, basah dan licin. Luar biasa, seumur hidupku, aku baru pernah melihat, meraba dan memasukkan bagian tubuhku ke alat kelamin yang bernama vagina! Saat itu aku tidak tahu bahwa clitoris adalah bagian yang paling sensitif, bahkan aku tidak memperhatikan bahwa di alat kelaminnya ada clitoris. Aku hanya berkosentrasi pada lubang kemaluannya saja yang terasa begitu menyenangkan untuk dipegang.

Didorong oleh penasaran, pembantuku nekat memaksaku membuka celana dan memintaku untuk berhubungan seksual dengannya. "Ayo dong masukin..", katanya. Saat dia membuka celanaku, penisku saat itu belum ereksi. Dia menarikku untuk segera memasukkan penisku ke lubang vaginanya yang saat itu memang sudah basah. Memasukkan penisku yang lemas (baru setengah berdiri) ke lubang vaginanya adalah pekerjaan yang sulit. Karena licin, selalu saja kelaminku meleset dan keluar dari lubangnya. Dia penasaran dan akhirnya dia memegang penisku dan memasukkannya ke lubang vaginanya. Belum sempat aku bergoyang lama, baru saja menekan dan mencabut, penisku melesat keluar. Dia frustrasi hingga akhirnya dia memaksa-maksa penisku untuk masuk ke lubang vaginanya. Ketika masuk agak dalam, aku melihat dia menengadahkan kepalanya seperti orang kenikmatan, dan secepat itu pula aku ejakulasi. Tidak ada kesan yang mendalam pada hubungan seksualku yang pertama. Begitu cepat selesai dan aku hampir tidak merasakan apa-apa ketika penisku berada dalam vaginanya. Yang kurasakan adalah sensasi yang luar biasa ketika mendengar deru nafasnya yang terdengar di telingaku.

Dia begitu kesal karena aku menyudahi persetubuhan. "Curang", katanya. Dan sejak itu aku menjadi penasaran dengan yang namanya berhubungan seksual. Aku dan dia bergantian meminta melakukan hubungan seksual, namun selalu aku yang menyudahinya terlebih dahulu dengan ejakulasi terlebih dahulu. Hubungan dengan pembantuku baru dirasa memuaskan dirinya ketika suatu saat, ketika aku sedang tidur siang, dia masuk ke kamarku, mengulum penisku hingga berdiri, dan dia memasukkan penisku ke vaginanya dengan berjongkok di atas tubuhku. Dia yang berada di atas. Aku bisa bertahan agak lama dan baru ejakulasi sesaat atau bersamaan dengannya mencapai orgasme. Hubungan seksual terus berlangsung setiap ada kesempatan dan baru berhenti ketika dia berhenti mengundurkan diri karena dia hamil (Aku tidak tahu apakah itu karena hubungan seks denganku atau dengan pacarnya yang adalah pedagang yang berjualan di dekat rumahku.) Aku menyesali (sekali lagi, penyesalan datangnya selalu belakangan) atas perbuatanku melakukan hubungan seksual. Tapi sungguh, selama aku berhubungan badan dengannya aku tidak pernah merasakan kepuasan yang sesungguhnya, karena aku tidak merasakan apa-apa selain sensasi basah, licin dan lembut pada penisku ketika memasuki lubang vaginanya.

Hubungan seksualku diluar nikah juga pernah kulakukan dengan dua orang pacarku, lama sekali setelah peristiwa itu terjadi. Aku berpacaran dengan 9 orang wanita, dari semuanya, hanya dua pacarku yang pertama saja yang tidak pernah melakukan kontak seksual, dalam arti ciuman berat (French kissing) sampai dengan hubungan seksual. Dan aku pernah berhubungan seksual dengan salah seorang pacarku yang masih perawan. Hal inilah yang ingin kuceritakan, karena berbeda dengan cerita-cerita yang pernah kubaca ataupun buku ilmiah yang kubaca.

Dinda (bukan nama sebenarnya) adalah pacarku yang pertama yang pernah berhubungan seksual denganku. Saat itu aku dan dia adalah mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Aku berpacaran dengannya setelah sekian lama aku tidak berpacaran lagi. Dengan pacarku terdahulu, sebelum dengan Dinda, aku mengalami pengalaman seksualku yang menarik. Walaupun aku tidak pernah berhubungan badan dengannya, dengan dialah aku pertama kali meremas mesra payudara, mengulum puting susu, sambil berciuman mesra. Bahkan dia pacar pertamaku yang pernah mengulum penisku. Aku baru dapat merasakan nikmatnya melakukan kontak seksual dengan orang yang kusayangi. Aku juga menyadari bahwa penisku secara spontan akan berdiri tegak ketika bermesraan dengan pacarku. Sangat jauh sekali perasaan berhubungan seksual dengan pembantu yang tanpa perasaan sayang, cinta dll.

Kembali ke Dinda, aku dan Dinda telah berpacaran sekitar 4 bulan ketika pertama kali aku berhubungan seksual dengan orang yang kusukai. Dinda adalah wanita yang cepat sekali terangsang nafsu seksualnya. Biasanya kalau sudah berdua di tempat kost, dia mulai minta dipeluk, menciumku, dan biasanya kita akhiri dengan petting (dia membuka seluruh pakaian dan hanya menyisakan celana dalam) dan kami melakukan kontak seksual seperti layaknya orang berhubungan seksual. Sampai suatu saat, aku ingin sekali merasakan kembali rasanya penis berada dalam vagina. Saat itu dia masih perawan, karena pengakuannya dia belum pernah melakukan hubungan seksual. Dengan pacarnya terdahulu, dia mengaku hanya pernah mengulum penis pacarnya dan pernah sampai bugil dan menempelkan alat kelamin, tapi dia bersumpah bahwa tidak sampai memasukkan penis pacarnya ke vaginanya. Bahkan dia menambahkan bahwa penis pacarnya sangat kecil, jauh lebih kecil dari penisku (padahal penisku tidak bisa dibilang besar, karena tidak lebih dari 6 - 7 inchi).

Aku tidak begitu ingat persis kejadian detailnya, tapi saat itu kami akan memasuki petting, dan aku meminta agar boleh membuka celana dalamnya. Dia hanya mengatakan 'apa harus?', aku tidak menjawab, aku hanya mengatakan bahwa aku tidak akan memasukkan penisku, hanya memainkannya di luar dan menggesekkannya di bibir vaginanya (sebelumnya aku pernah memasukkan jari tanganku ke dalam lubang vaginanya ketika bermesraan).

Saat sedang menggesek-gesekan penisku, aku merasakan bahwa vaginanya sangat basah dan licin, timbul niatku untuk merasakan hubungan seksual. Saat itu penisku masih belum terlalu besar, dan perlahan aku mulai menyelipkan penisku di lubangnya. Dan kumain-mainkan, dengan bantuan tanganku kumasukkan penisku yang masih belum ereksi ke liang vaginanya. Setelah berada di lubangnya, perlahan aku mulai mencumbunya, aku menjadi sangat terangsang dan aku merasakan penisku mengeras dan merasakan hal yang sama ketika aku berhubungan seksual dengan pembantuku, basah, licin, lembut. Nafas Dinda mulai memburu dan mulai memejamkan mata dan menegadahkan kepalanya. Melihat hal ini aku tambah bernafsu, dan hanya beberapa kali aku menggoyangkan pinggulku, aku cepat-cepat menarik penisku dan ejakulasi di luar vaginanya.

Tidak seperti biasanya Dinda meneteskan air matanya. Ketika aku tanyakan, dia mengatakan bahwa aku sudah memerawaninya, karena dia merasakan bahwa penisku sudah masuk ke vaginanya. Tidak ada darah keluar dari lubang vaginanya maupun di penisku. Tidak ada rasa penisku menembus sesuatu, tidak ada rasa sakit dirasakan oleh Dinda. Dinda sudah mengalami orgasme saat aku mencabut penisku. Tidak ada sensasi bahwa aku menyobek selaput daranya. Aku hanya merasakan basah, licin, lembut dan hangat. Sejak saat itu kami melakukan hubungan seksual jika ada kesempatan, baik di tempat kostku ataupun di tempat kostnya. Aku masih tidak merasakan sensasi yang luar biasa pada penisku saat berhubungan badan dengan Dinda, hampir sama dengan saat aku berhubungan seksual dengan pembantuku, tapi ada rasa nikmat karena bercumbu mesra. Dinda adalah wanita pertama yang pernah kurangsang dengan mulutku (cunnilingus), atau seks oral. Aku pertama kali melakukan seks oral terhadap wanita, dan perbuatan ini sangat menyenangkan bagiku.

Aku dan Dinda akhirnya putus hubungan karena aku merasa ada yang tidak cocok dengan dirinya, selain aku juga kecewa karena ketika hubungan seksual, Dinda seperti boneka dildo, hanya diam, menutup mata dan nafas tersengal. Tidak ada goyangan pinggul ataupun 'perlawanan' lain yang kuharapkan. Bahkan hampir tidak ada erangan atau desahan Dinda pada saat kami berhubungan seksual. Pernah aku meminta dia untuk di atas tapi dia selalu menolak. Kami akhirnya memutuskan hubungan walaupun aku menyesal karena telah 'memerawani' wanita lain dan tidak menikahinya. Oleh karena itu aku memang tidak pernah mensyaratkan keperawanan kepada calon isteriku sejak aku telah melakukan hubungan seksual dengan pembantuku.

Aku tidak pernah mau berhubungan seksual ataupun kontak seksual dengan orang yang tidak kusukai atau kusayangi, selain aku tidak senang, penisku juga sulit untuk ereksi jika hanya berdekatan dengan wanita, bahkan melihat wanita telanjang. Hal ini pernah terjadi pada perempuan nakal yang pernah mengajaku 'check in' di hotel dan mencoba untuk berhubungan seksual dengannya. Dia sudah telanjang, demikian juga aku, tapi kami tidak jadi melakukan hubungan seksual, aku hanya merangsang payudaranya dan memainkan vaginanya dengan tanganku tanpa melakukan cumbuan. Aku hanya mengatakan bahwa aku lelah dan hanya ingin memainkan vaginanya (Padahal dia manis, putih dan body-nya lumayan, lagipula aku tidak perlu membayarnya, hotelpun dibayar urunan).

Hubungan seksual diluar nikah lain kualami dengan pacarku yang lain, Rita. Sebetulnya dia bukan pacarku, tapi pacar temanku. Dia memang akrab denganku karena pacarnya adalah sahabatku di tempat kost. Suatu hari dia bercerita kepadaku bahwa dia baru saja putus dan sedang galau. Rita seorang gadis manis yang sudah bekerja sejak dia lulus D1. Dia gadis yang pandai, manis, putih dan seksi serta imut. Aku sebetulnya sudah tertarik dengan dia sejak dia masih berpacaran dengan temanku, Tommy. Sejak putus dia sering 'curhat' kepadaku dan mulai dekat denganku. Akupun tertarik dengannya, dan aku minta ijin kepada temanku untuk berpacaran dengannya. Saat itu Tommy sudah punya gandengan yang lebih 'seksi' dari Rita, hal itulah yang menyebabkan Tommy memutuskan Rita, setelah Rita memergoki Tommy sedang bermesraan di kamar kostnya.

Akhirnya kamipun berpacaran. Walaupun kami berbeda kota, tapi Rita rajin berkunjung ke tempatku dan menginap di tempat kostku saat akhir pekan (tempat kostku memang agak bebas. That's why I choose this one !). Berdasarkan ceritanya, dia mengatakan bahwa ketika sedang galau, dia pernah mabuk berat dan 'diperawani' oleh teman kerjanya yang juga mabuk berat. Dia tidak menyesalinya saat itu karena dia ingin balas dendam dengan Tommy. Aku masih menjaga perasaannya, jadi aku tidak pernah berhubungan badan dengannya walau kami tidur bersama. Saat itulah aku menceritakan kebiasaanku membuka celana sendiri, dan aku tidak mau ia kaget karena pada saat bangun melihatku tidak mengenakan apa-apa di tubuh bawahku. Dia hanya terbengong-bengong saat aku menceritakan kebiasaanku itu. Beberapa malam kami lewati dengan hanya berpelukan atau sekedar mencium bibir ala kadarnya. Rita seorang wanita yang enak diajak berdiskusi dan mengobrol. Hari-hari kami lewati dengan mengobrol, bercanda, diskusi tentang segala hal termasuk seks.

Setelah sekian lama berhubungan, akhirnya hubungan kami berlanjut dengan melakukan kontak-kontak seksual. Berbeda dengan Dinda, Rita begitu menggelora dan responnya luar biasa ketika petting. Dia selalu menggerak-gerakkan pinggulnya ketika kelamin kami bersentuhan tanpa dibatasi apapun. Namun aku belum mau memasukkan penisku, karena aku tidak ingin dia hamil atau teringat akan trauma yang pernah ia alami. Namun suatu saat, kami begitu bergairah (sayangnya kami tidak tahu apa yang menyebabkan kami berdua begitu bergairah), dia memintaku memasukkan penisku ke vaginanya yang sudah basah sekali. Semula aku menolak, tapi dia terus merengek dan memaksaku untuk memasukkan penisku ke vaginanya, malah dia sendiri membuka kakinya lebar-lebar supaya penisku masuk. Karena tidak tahan dan dia terus memaksa, akhirnya aku memasukkan penisku ke vaginanya.

Sensasi itu terasa lagi, basah, licin, hangat dan lembut. Namun pada saat penisku masuk, Rita merintih kesakitan, sambil menggigit bibirnya sendiri dan terus melirih saat aku bergoyang. Aku tidak tega melihatnya, namun waktu aku tanya dia hanya mengatakan dengan nada lirih bahwa dia merasa sakit, tapi dia tidak ingin hubungan seksual berhenti. Seperti biasa, hubungan seksual terjadi begitu singkat, dan akupun cepat ejakulasi. Hal ini agak mengganggu diriku karena kalau melakukan hubungan seksual, aku cepat sekali ejakulasi tapi jika petting, aku mampu mempertahankan ereksi sampai lama sekali.

Rita selalu menghiburku kalau aku kecewa karena selalu ejakulasi cepat sekali. Tapi satu hal yang aku dapatkan bahwa Rita selalu merasa sakit ketika aku melakukan penetrasi. Apabila aku melakukan penetrasi, Rita selalu berubah menjadi 'boneka dildo' yang merintih. Perbedaan lain dengan Dinda adalah Rita sudah aku bekali dengan ilmu 'Keggel'. Jadi walaupun dia diam, tapi otot-otot vaginanya meremas-remas penisku di dalam vaginanya. Inilah sensasi luar biasa yang pernah kualami selama melakukan hubungan seksual. Hal lain yang aku dapati dari Rita, adalah bahwa Rita mengaku tidak pernah merasakan orgasme sekalipun dalam seumur hidupnya. Dia merasa bahwa tidak pernah melakukan masturbasi, dan walaupun petting denganku sampai satu jam, dia tidak pernah merasakan suatu 'puncak kenikmatan' seksual (karena itulah aku mengajarkannya masturbasi dengan shower ataupun dengan tangan dan senam 'Keggel').

Dari Rita aku mendapat pengalaman yang sangat berharga yaitu bahwa dia merasa hubungan seksual dengan posisi wanita di atas lebih menyenangkan bagi wanita, karena itulah satu-satunya posisi di mana dia tidak menjadi 'boneka dildo', dia menggerakkan pinggulnya, dan hal ini menyenangkan diriku karena penisku merasa lebih nikmat karena seperti diremas-remas. Hubungan kami akhirnya putus karena kami masih berpendirian dengan prinsip dan pegangan hidup masing-masing, dan kami menyadari bahwa kami berasal dari keluarga yang jauh berbeda di mana masing-masing keluarga sulit untuk menerima pandangan hidup keluarga masing-masing. Setelah dengan Rita, aku berpacaran dengan pacarku yang terakhir yang akhirnya sampai saat ini menjadi isteriku yang tercinta.


Bersambung ke bagian 03

<<-Prev| Next->>

Suka kami? Silakan kunjungi situs kami di sini...


Fortified by 17Tahun
.com - Contact Us